Bimbingan Sakaratul Maut bagi Pasien Muslim

untuk ikhwanuntuk akhwat

Sakit bukanlah sesuatu yang diharapkan setiap orang. Namun bukan hal yang tidak berguna, Allah menurunkan sakit pada setiap manusia. Selalu ada tujuan dan titik terang (hikmah) yang harusnya dapat kita sadari untuk berkhusnudzan (berprasangka baik) pada Allah Sang Maha Pencipta dan Maha Penguasa Bumi serta isinya.

Allah menurunkan ujian sakit pada kita karena Allah sayang bahkan cinta. Karena kecintaannya pada kita, Allah ingin kita menjadi orang yang sabar, tidak kikir, dan tinggi derajat dihadapanNya.

Ingatlah saudaraku, cobaan dan penyakit merupakan tanda kecintaan Allah kepada hamba-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Sesungguhnya Allah ta’ala jika mencintai suatu kaum, maka Dia akan memberi mereka cobaan.” (HR. Tirmidzi, shohih).

Inilah beberapa hikmah sakit yang membuktikan Allah cinta pada hambanya :

  • Sakit menjadi kebaikan bagi seorang muslim jika dia bersabar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya merupakan kebaikan, dan hal ini tidak terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika dia mendapat kegembiraan, maka dia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika mendapat kesusahan, maka dia bersabar dan ini merupakan kebaikan baginya. (HR. Muslim)

  • Sakit akan menghapuskan dosa

Ketahuilah wahai saudaraku, penyakit merupakan sebab pengampunan atas kesalahan-kesalahan yang pernah engkau lakukan dengan hati, pendengaran, penglihatan, lisan dan dengan seluruh anggota tubuhmu. Terkadang penyakit itu juga merupakan hukuman dari dosa yang pernah dilakukan. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “Dan apa saja musibah yang menimpamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. asy-Syuura: 30). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda,”Tidaklah menimpa seorang mukmin rasa sakit yang terus menerus, kepayahan, penyakit, dan juga kesedihan, bahkan sampai kesusahan yang menyusahkannya, melainkan akan dihapuskan dengannya dosa-dosanya. (HR. Muslim)

  • Sakit akan membawa keselamatan dari api neraka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,” Janganlah kamu mencaci maki penyakit demam, karena sesungguhnya (dengan penyakit itu) Allah akan mengahapuskan dosa-dosa anak Adam sebagaimana tungku api menghilangkan kotoran-kotoran besi. (HR. Muslim)

Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang mukmin mencaci maki penyakit yang dideritanya, menggerutu, apalagi sampai berburuk sangka pada Allah dengan musibah sakit yang dideritanya. Bergembiralah wahai saudaraku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sakit demam itu menjauhkan setiap orang mukmin dari api Neraka.” (HR. Al Bazzar, shohih)

  • Sakit akan mengingatkan hamba atas kelalaiannya

Wahai saudaraku, sesungguhnya di balik penyakit dan musibah akan mengembalikan seorang hamba yang tadinya jauh dari mengingat Allah agar kembali kepada-Nya. Biasanya seseorang yang dalam keadaan sehat wal ‘afiat suka tenggelam dalam perbuatan maksiat dan mengikuti hawa nafsunya, dia sibuk dengan urusan dunia dan melalaikan Rabb-nya. Oleh karena itu, jika Allah mencobanya dengan suatu penyakit atau musibah, dia baru merasakan kelemahan, kehinaan, dan ketidakmampuan di hadapan Rabb-Nya. Dia menjadi ingat atas kelalaiannya selama ini, sehingga ia kembali pada Allah dengan penyesalan dan kepasrahan diri. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (para rasul) kepada umat-umat sebelummu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri. (QS. al-An’am: 42) yaitu supaya mereka mau tunduk kepada-Ku, memurnikan ibadah kepada-Ku, dan hanya mencintai-Ku, bukan mencintai selain-Ku, dengan cara taat dan pasrah kepada-Ku. (Tafsir Ibnu Jarir)

  • Terdapat hikmah yang banyak di balik berbagai musibah

Wahai saudaraku, ketahuilah di balik cobaan berupa penyakit dan berbagai kesulitan lainnya, sesungguhnya di balik itu semua terdapat hikmah yang sangat banyak. Maka perhatikanlah saudaraku nasehat Ibnul Qoyyim rahimahullah berikut ini: “Andaikata kita bisa menggali hikmah Allah yang terkandung dalam ciptaan dan urusan-Nya, maka tidak kurang dari ribuan hikmah. Namun akal kita sangatlah terbatas, pengetahuan kita terlalu sedikit dan ilmu semua makhluk akan sia-sia jika dibandingkan dengan ilmu Allah, sebagaimana sinar lampu yang sia-sia di bawah sinar matahari.” (Lihat Do’a dan Wirid, Yazid bin Abdul Qodir Jawas)

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS. al-Anbiyaa’: 35).

Setiap manusia pasti berharap dapat meninggalkan dunia secara bermartabat, damai, khusnul khotimah. Biasanya orang yang menghadapi sakaratul maut, sulit untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Oleh karena itu perlu kita tahu tanda-tanda sakaratul maut :

  1. penginderaan dan gerakan menghilang secara berangsur-angsur yang dimulai pada anggota gerak paling ujung khususnya pada ujung kaki, tangan, ujung hidung yang terasa dingin dan lembab,
  2. kulit nampak kebiru-biruan kelabu atau pucat.
  3. Nadi mulai tak teratur, lemah dan pucat.
  4. Terdengar suara mendengkur disertai gejala nafas cyene stokes.
  5. Menurunnya tekanan darah, peredaran darah perifer menjadi terhenti dan rasa nyeri bila ada biasanya menjadi hilang. Kesadaran dan tingkat kekuatan ingatan bervariasi tiap individu. Otot rahang menjadi mengendur, wajah pasien yang tadinya kelihatan cemas nampak lebih pasrah menerima.

Ketika manusia diahadapkan dalam keadaan sakaratul maut, menjadi penting peran keluarga pasien dan perawat dalam membimbing pasien. Diantaranya seperti :

  • Menyabarkan orang sakit agar menerima kenyataan itu sebagai bagian dari takdir dan cobaan Tuhan. Tabah menjalani penyakit bagian dari ibadah dan berfungsi sebagai penghapus dosa masa lampau.
  • Jangan membayangkan sesuatu yang menakutkan kepada orang sakit, sebaliknya upayakan membangkitkan semangat, rasa optimis, dan kepasrahan (tawakkal) kepada Allah Swt.
  • Menuntun dengan doa yang dianjurkan dan diajarkan Rasulullah kepada para pembesuk terhadap orang sakit,

    “Allahumma rabban nasi, mudzhibal basi, isyfi antasy syafi, syifa’an la yughadiru saqaman.”

    Artinya: “Ya Allah, Tuhan manusia, sembuhkanlah (dia), Engkaulah Zat Yang Maha Penyembuh, Penyembuh yang tidak menyisahkan (penyakit) kepada orang sakit”.

  • Membimbing pasien agar berbaik sangka kepada Allah SWT.

Kurang romantis apa Allah Swt pada hambanya ? :')

  • Mentalkinkan dengan Kalimat Laailahaillallah.

Perawat muslim dalam mentalkinkan kalimah laaillallah dapat dilakukan pada pasien terminal menjelang ajalnya terutama saat pasien akan melepaskan nafasnya yang terakhir. Peran perawat disamping memenuhi kebutuhan fisiknya juga harus memenuhi kebutuhan spiritual pasien muslim agar diupayakan meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. Perawat membimbing pasien dengan mentalkinkan (membimbing dengan melafalkan secara berulang-ulang), sebagaimana Rasulullah mengajarkan dalam,

Hadist Riwayat Muslim, “Talkinkanlah olehmu orang yang mati diantara kami dengan kalimat Laailahaillallah karena sesungguhnya seseoranng yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya sesungguhnya seseorang yang mengakhiri ucapannya dengan itu ketika matinya maka itulah bekalnya menuju surga.”

  • Berbicara yang Baik dan Do´a untuk jenazah ketika menutupkan matanya. Di samping berusaha memberikan sentuhan (Touching) perawat muslim perlu berkomunikasi terapeutik, antara lain diriwayatkan oleh Imam Muslim Rasulullah SAW bersabda:

“Bila kamu datang mengunjungi orang sakit atau orang mati, hendaklah kami berbicara yang baik karena sesungguhnya malaikat mengaminkan terhadap apa yang kamu ucapkan.”

Tata Nilai Perawat Altruisme

Perawat harus menerapkan nilai kemanusiaan dengan mementingkan orang lain. Perawat harus menghargai kepentingan orang di atas kepentingan diri sendiri. Perawat mempunyai sifat kemanusiaan terhadap sesama, untuk mampu memberikan perawatan yang berkualitas, maka diperlukan lima langkah sebagai berikut (Dwidiyanti, 2007).

  1. Perawat perlu memahami apa yang akan atau sedang terjadi. Perlu bagi seorang perawat memahami kelebihan dan kekurangan dirinya sebagai seorang perawat sebelum mengkaji kelebihan dan kekurangan yang ada dalam diri pasien. Ketika seorang perawat mengenali dirinya sendiri, maka ia akan paham bagaimana menangani pasien atau berkomunikasi dengan pasien dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
  2. Perawat mengetahui kata hatinya. Kata hati atau nurani merupakan bagian yang sangat penting dalam memahami situasi atau kondisi atau masalah yang sedang dialami pasien. Dengan nurani atau hati, perawat mampu mengerti secara keseluruhan masalah yang sebenarnya terjadi pada pasien. Karena dari beberapa referensi menyatakan bahwa dengan nurani kebenarannya lebih dari 70 kali lipat dari mata.
  3. Perawat mengetahui ilmunya. Perawat bergerak dari nurani ke analisa data yang memerlukan ilmu, karena data harus dibandingkan dan diinterpretasi, sehingga perawat mampu untuk menemukan masalah pasien dengan tepat.
  4. Perawat mengetahui bagaimana mensintesa pengetahuan untuk memahami pasien. Perawat seharusnya mengetahui mengapa masalah itu terjadi, dan mampu menghubungkan kondisi atau fenomena satu dengan yang lain. Sehingga perawat mempunyai cara pandang yang luas tentang masalah pasien.
  5. Kesukesan perawat datang dari hal-hal yang kadang tidak mungkin. Keberhasilan perawat dalam melakukan pendekatan terhadap pasien terkadang dapat dilakukan dengan melakukan hal-hal yang dipandang kecil atau sederhana seperti memberi salam, menanyakan kabar, ramah, dan sebagainya.

“Perawat yang sehat belum tentu ia benar-benar sehat secara biologis, psikologis, maupun sosiologis. Namun, seorang perawat akan terus dan terus berupaya untuk membuat dirinya tetap tampak sehat, karena nikmatnya sehat akan dapat ia rasakan ketika melihat senyum pasien menikmati kesehatannya” Asri Nurkarimah 16-12-2014

Altruisme

Altruisme adalah hasrat untuk menolong orang lain tanpa memikirkan kepentingan sendiri (Macy, 1996).

termasuk kategori manakah kita ?

MENGAPA ORANG MENOLONG ?

Teori Behaviorisme : manusia menolong karena dibiasakan oleh masyarakat untuk menolong dan untuk perbuatan itu masyarakat menyediakan ganjaran yang positif (Macy, 1995)

Teori Empati : egoisme + simpati = empati, berfungsi bersama-sama dalam menolong. Menolong dari segi egoisme –> dapat mengurangi ketegangan diri sendiri, sedangkan dari segi simpati –> dapat mengurangi penderitaan orang lain.

Misalnya : seorang ibu yang mendapatkan anaknya sakit. Seorang ibu menyatukan penderitaan anaknya dengan penderitaannya sendiri, seakan-akan segala sesuatu yang dirasakan oleh anaknya, dirasakannya juga. Upaya untuk menolong anaknya agar cepat sembuh menjadi lebih besar. Hal tersebut menggambarkan titik fokus usaha menolong terletak pada penderitaan orang lain karena dengan terbebasnya orang lain, penolong akan terbebas dari penderitaannya sendiri (Miller & Eisenberg, 1988).

adapun hubungan empati yang melanggar prinsip moral atau keadilan

Misalnya : Seorang ayah yang anaknya menderita sakit keras. Demi empati kepada anaknya, sang ayah sampai mencuri obat dari apotek, ia melanggar keadilan dan hak pemilik apotek.

Teori Norma Sosial : manusia menolong karena diharuskan oleh norma-norma masyarakat.

  1. norma timbal balik (reciprocity norm) : membalas pertolongan dengan pertolongan. Jika kita sekarang menolong orang, lain kali kita ditolong orang atau di masa lalu kita pernah ditolong orang, sekarang kita harus menolong orang (Gouldner, 1960)
  2. norma tanggung jawab sosial social responsibility norm) : kita wajib menolong orang lain tanpa mengharap balasan apapun.
  3. norma keseimbangan : seluruh alam semesta harus berada dalam keadaan seimbang, serasi, dan selaras. Sebagai bentuk mempertahankan keseimbangan tersebut manusia membuktikannya dengan perilaku menolong. Menurut penelitian pada keluarga-keluarga di Hongkong yang menerapkan norma keseimbangan menghasilkan anak-anak yang altruism (Ma & Leung,1995)

Teori Evolusi : mempertahankan jenis dalam proses evolusi (survival). Seperti :

  1. perlindungan kerabat (kin protection). Secara alamiah orang cenderung membantu orang terdekat dan yang memiliki pertalian darah (Rushton dkk., 1984)
  2. timbal balik biologik (biological reciprocity) –> menolong untuk memperoleh pertolongan kembali.
Teori Perkembangan Kognisi : menolong karena aliran psikologi kognitif. Pada anak-anak, menolong didasarkan pada pertimbangan hasil. Semakin dewasa anak itu, semakin tinggi kemampuannya untuk berpikir abstrak, semakin mampu ia mempertimbangkan usaha atau biaya yang harus dikorbankan untuk perilaku menolong (Lourenco, 1994).
Stevick & Addleman (1995) menemukan bahwa perilaku menolong dapat meningkatkan harga diri pada mahasiswa dan anak usia 7 tahun (Switzer, Simmons & Dew, 1995).
 
 KAPAN ORANG MENOLONG ?
Pengaruh Situasi
  1. bystanders. Menurut penelitian psikologi sosial, yang berpengaruh pada perilaku menolong atau tidak menolong adalah adanya orang lain yang kebetulan berada bersama kita di tempat kejadian (bystanders). Semakin banyak orang lain yang mampu menolong, semakin kecil kecenderungan seseorang untuk ikut menolong (Latane & Darley, 1970). Sebaliknya, orang yang sedang sendirian, lebih bersedia untuk menolong (Latane & Nida, 1981).
  2. menolong jika orang lain juga menolong
  3. desakan waktu. Orang yang sedang terburu-buru cenderung menolak memberi bantuan kepada yang memebutuhkan, daripada orang yang memilik waktu luang.
  4. kemampuan yang dimiliki. Orang yang merasa mampu untuk menolong, maka ia akan menolong. Namun, bagi yang merasa tidak mampu untuk menolong, maka ia tidak menolong.

Pengaruh dari Dalam Diri

  1. perasaan
  2. faktor sifat (trait)
  3. agama
  4. tahapan moral
  5. jenis kelamin

Tahap-Tahap Perilaku Menolong

1. Apakah seseorang memperhatikan bahwa sedang terjadi sesuatu ?

ya –> pertolongan diberikan

tidak –> tidak ada pertolongan

2. Apakah sesuatu itu diinterpretasikan dengan benar ?

ya –> pertolongan diberikan

tidak –> tidak ada pertolongan

3. Apakah orang itu merasa bertanggung jawab ?

ya –> pertolongan diberikan

tidak –> tidak ada pertolongan

4. Apakah orang tersebut memutuskan untuk bertindak ?

ya –> pertolongan diberikan

tidak –> tidak ada pertolongan

5. Apakah orang tersebut sungguh-sungguh bertindak ?

ya –> pertolongan diberikan

tidak –> tidak ada pertolongan

Siapa yang Ditolong ?

  1. jenis kelamin. Menurut penelitian di AS, jika penolongnya laki-laki, maka yang lebih banyak ditolong adalah wanita, sedangkan jika penolongnya wanita, maka wanita dan laki-laki sama banyak mendapat pertolongan (Penner, Dertke & Achenbach, 1993 ; Pomazal & Clore, 1973)
  2. kesamaan antara penolong dan yang ditolong meningkatkan perilaku menolong
  3. tanggung jawab korban. Kalau ada orang terkapar dan butuh pertolongan, orang akan cenderung memberi pertolongan pada orang yang luka-luka daripada yang berbau alkohol. Pada korban  kedua, orang menganggapnya sebagai kesalahan sendiri (Schmidt & Weiner, 1988)
  4. menarik. Semakin suka penolong terhadap ornag yang ditolong, semakin besar kecenderungan untuk menolong (Clark, dkk., 1987 ; Benson, Xarabenick & Leiner, 1976)

Meningkatkan Perilaku Menolong

1. mengurangi kendala

  • mengurangi keraguan atau ketidakjelasan (ambigu) dan meningkatkan tanggung jawab (Bickman, 1970)
  • peningkatan rasa tanggung jawab dapat dipancing dengan jakan secara pribadi (Foss, 1978)
  • kendala pada perilaku menolong dapat diturunkan dengan menigkatkan rasa bersalah
  • cara lain untuk menurunkan kendala adalah dengan memanipulasi gengsi atau harga diri seseorang

2. memasyarakatkan altruisme

  • mengajarkan inklusi moral
  • memberikan atribusi “menolong” pada perilaku altruisme
  • memberi pelajaran tentang altruisme

Tata Nilai Perawat Empati

seperti video diatas, bagaimana sikap empati sebenarnya.

Sebagaimana dikutip oleh Daniel Goleman dalam bukunya yang berjudul Emotional Intelligence (1997), istilah empati pertama kali berasal dari bahasa Yunani empatheia, yang berarti “ikut merasakan”. Yang membedakan empati dan simpati adalah ada pada perasaan yang muncul dalam hati seseorang kepada orang lain.

Menurut Abu Ahmadi (1992), empati merupakan suatu kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang lain andaikata kita dalam situasi orang lain tersebut, sedangkan berdasarkan teori Tichener simpati bermakna lebih dekat dengan perhatian terhadap kemalangan lumrah orang lain tanpa ikut merasakan apapun yang dirasakan oleh orang lain itu.

Sejak dilahirkan, setiap orang memiliki rasa empati. Yang membedakannya adalah kepekaan rasa empati yang terbenam dalam dirinya. Seseorang dikatakan kurang peka atau muncul rasa empati karena pengaruh pendidikan yang diterima, baik dari lingkungan dalam (keluarga) maupun lingkungan luar (kehidupan masyarakat, sekolah). Seperti halnya ketika anak kecil nakal yang dimarahi dengan ajaran “nakalnya kamu !” akan membuat dirinya paham bagaimana cara mengatasi orang lain yang nakal berdasarkan ajaran yang dia terima, namun berbeda jika faktor lingkungan mengajarkan “lihat, kamu membuatnya amat sedih”.

Begitu pula dengan perawat profesional yang menjadi pemilik jiwa besar bagi pasien rawatnya. Kepada siapa lagi kita bercerita dengan kepahaman penderitaan kesehatan kita? kepada perawatlah, orang yang banyak meluangkan waktu bersama kita, yang berusaha merawat kita sampai kembali pulihnya jiwa dan raga kita 🙂

Segala sesuatu akan sampai ke hati bila disampaikan dengan hati pula. I Will Be A Professional Nurse 🙂

Nurse to understand client

Tata Nilai Perawat Care

Perawat adalah seseorang yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan pada orang lain berdasarkan ilmu dan kiat yang dimilikinya dalam batas-batas kewenangan yang dimilikinya. (PPNI, 1999; Chitty, 1997).

Nursing Care of Older People :
• Nurses failed to find out information about patient needs
• ‘Problemetized’ the older person
• Limited care
• ‘Technicalized’ care
• Rationalised actions
(Milton-Wildey and O’Brien, 2007)

Asri Nurkarimah 29/11/2014
Dengan gagah dia berdiri, berdiri dengan senyuman tapi juga bersahabat, dengan sigap dan ketenangan dia melewati lorong demi lorong, sepanjang melalui mata yang melihat, dia tawarkan wajah senyuman, dia senang tersenyum, langkahnya menandakan kepeduliannya menuju satu tujuan, sekedar melihat dan memperhatikan “apakah pasienku baik-baik saja?”, begitu kata hatinya. Rasa senang menjalar seluruh hati dan pikiran dikala pasien lebih baik dengan rawatnya. “syukur Tuhan, pasienku lebih baik hari ini”, begitulah dia panjatkan rasa syukur. Memahami dan dipahami adalah mutiara persahabatannya. Dialah harapan diriku, diri menjadi seorang calon perawat profesional 🙂 ~Asri Nukarimah 29/11/2014

Check this out 🙂

Caring is not just about words but acts, okesip 🙂